Recent update

Subscribe to RSS feed

KASUS SARA DI MAKASSAR

June 18th, 2010 by ilmanf06

Puluhan mahasiswa yang menamakan diri aliansi mahasiswa se Makassar berunjuk rasa di depan Polwiltabes Makassar, Minggu malam sekitar pukul 22.45 Wita.

Mereka memprotes pemukulan dosen sastra dan bahasa Universitas Negeri Makassar (UNM), dr Ahyar Anwar yang dilakukan oleh tiga orang oknum pemuda warga keturunan bernama Harianto, Anwar dan Riono di sekitar pasar sentral Makassar pada Minggu petang (1/7) sekitar pukul 15.00 Wita. Di depan puluhan aparat kepolisian yang sedang berjaga-jaga para mahasiswa meminta agar kasus tersebut ditindak lanjuti hingga ke pengadilan, selain itu pula mahasiswa meminta aparat kepolisian serius menangani kasus tersebut.

Aksi mahasiswa tersebut diwarnai ketegangan antara pihak kepolisian dan mahasiswa dimana usai melakukan orasinya dan bertemu langsung dengan korban, mahasiswa hendak melakukan swiping di depan Mapolwiltabes Makassar yang berdekatan dengan komplex pecinan (Cina Town) untuk mencari warga keturunan. Namun aksi itu dihalau aparat kepolisian hingga ketegangan tidak terhindarkan bahkan terjadi aksi saling dorong.

Dalam waktu bersamaan di tempat terpisah yakni di sekitar Kampus UNM Gunung Sari Makassar, sejumlah mahasiswa juga melakukan razia warga keturunan, namun tidak ada insiden dalam peristiwa itu. Tiga orang mahasiswa yakni Mappasomba (Unhas), Irfan dan Fuad (UNM) diamankan polisi karena diduga sebagai provokator dalam aksi tersebut.

Keterangan yang diperoleh ANTARA di lapangan hingga sekitar 24.00 Wita menyebutkan, kejadian itu berawal ketika Ahyar bersama istrinya Risma dan seorang anaknya bernama Anwar sedang berjalan di sekitar pasar sentral, tiba-tiba anak korban nyaris diserempet sebuah mobil bernomor polisi B 1756 TQ.

Ahyar menghampiri mobil tersebut untuk menegurnya agar berhati-hati membawa mobil, namun teguran itu tak dihiraukan oleh pelaku malah ketiga pemuda itu keluar dari dalam mobil dan memukuli korban. “Untung ada tukang becak yang menolong, kalau tidak, suamiku sudah bonyok dikeroyok pemuda itu,” ujar Risma sambil menggendong anaknya.

Kasat Reskrim Polwiltabes Makassar, AKBP Richard M Nainggolang mengatakan pihaknya masih memeriksa tiga orang tersangka dan korban dalam kasus ini. Sementara barang bukti yang disita oleh polisi yakni baju milik korban yang berlumur darah. Dari hasil visum, kata Richard, korban mengalami luka sobek di bagian kening dan bibir bawah.

Ditempat terpisah Kapendam VII/Wirabuana, Mayor Inf Rustam Effendi dan Wakil Wlaikota Makassar, Andi Herry Iskandar meminta semua pihak mengendalikan diri serta tidak terpancing melakukan tindakan main hakim sendiri. “Serahkan kepada aparat hukum untuk menangani kasus ini,” kata Rustam senada dengan Andi Herry Iskandar.

Sedangkan tokoh warga keturunan, Arwan Tjahyadi meminta agar tindakan kriminal yang dilakukan ketiga oknum itu jangan didelegasikan ke seluruh warga keturunan untuk menerima akibatnya. “Biarlah ketiga orang yang melakukan tindak kejahatan itu saja yang dihukum sesuai ketentuan yang berlaku, jangan disamaratakan ke seluruh warga keturunan yang tidak bersalah,” ujarnya dengan mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku penganiayaan itu sesuai ketentuan yang berlaku.

Suasana Kota Makassar pada Senin pagi berjalan normal dan aktivitas perdagangan di pusat-pusat pertokoan yang banyak dihuni warga keturunan berjalan seperti biasa.

Posted in Academic | | 0 Comments

kASUS SARA DI MAKASSAR

June 18th, 2010 by ilmanf06

Puluhan mahasiswa yang menamakan diri aliansi mahasiswa se Makassar berunjuk rasa di depan Polwiltabes Makassar, Minggu malam sekitar pukul 22.45 Wita.

Mereka memprotes pemukulan dosen sastra dan bahasa Universitas Negeri Makassar (UNM), dr Ahyar Anwar yang dilakukan oleh tiga orang oknum pemuda warga keturunan bernama Harianto, Anwar dan Riono di sekitar pasar sentral Makassar pada Minggu petang (1/7) sekitar pukul 15.00 Wita. Di depan puluhan aparat kepolisian yang sedang berjaga-jaga para mahasiswa meminta agar kasus tersebut ditindak lanjuti hingga ke pengadilan, selain itu pula mahasiswa meminta aparat kepolisian serius menangani kasus tersebut.

Aksi mahasiswa tersebut diwarnai ketegangan antara pihak kepolisian dan mahasiswa dimana usai melakukan orasinya dan bertemu langsung dengan korban, mahasiswa hendak melakukan swiping di depan Mapolwiltabes Makassar yang berdekatan dengan komplex pecinan (Cina Town) untuk mencari warga keturunan. Namun aksi itu dihalau aparat kepolisian hingga ketegangan tidak terhindarkan bahkan terjadi aksi saling dorong.

Dalam waktu bersamaan di tempat terpisah yakni di sekitar Kampus UNM Gunung Sari Makassar, sejumlah mahasiswa juga melakukan razia warga keturunan, namun tidak ada insiden dalam peristiwa itu. Tiga orang mahasiswa yakni Mappasomba (Unhas), Irfan dan Fuad (UNM) diamankan polisi karena diduga sebagai provokator dalam aksi tersebut.

Keterangan yang diperoleh ANTARA di lapangan hingga sekitar 24.00 Wita menyebutkan, kejadian itu berawal ketika Ahyar bersama istrinya Risma dan seorang anaknya bernama Anwar sedang berjalan di sekitar pasar sentral, tiba-tiba anak korban nyaris diserempet sebuah mobil bernomor polisi B 1756 TQ.

Ahyar menghampiri mobil tersebut untuk menegurnya agar berhati-hati membawa mobil, namun teguran itu tak dihiraukan oleh pelaku malah ketiga pemuda itu keluar dari dalam mobil dan memukuli korban. “Untung ada tukang becak yang menolong, kalau tidak, suamiku sudah bonyok dikeroyok pemuda itu,” ujar Risma sambil menggendong anaknya.

Kasat Reskrim Polwiltabes Makassar, AKBP Richard M Nainggolang mengatakan pihaknya masih memeriksa tiga orang tersangka dan korban dalam kasus ini. Sementara barang bukti yang disita oleh polisi yakni baju milik korban yang berlumur darah. Dari hasil visum, kata Richard, korban mengalami luka sobek di bagian kening dan bibir bawah.

Ditempat terpisah Kapendam VII/Wirabuana, Mayor Inf Rustam Effendi dan Wakil Wlaikota Makassar, Andi Herry Iskandar meminta semua pihak mengendalikan diri serta tidak terpancing melakukan tindakan main hakim sendiri. “Serahkan kepada aparat hukum untuk menangani kasus ini,” kata Rustam senada dengan Andi Herry Iskandar.

Sedangkan tokoh warga keturunan, Arwan Tjahyadi meminta agar tindakan kriminal yang dilakukan ketiga oknum itu jangan didelegasikan ke seluruh warga keturunan untuk menerima akibatnya. “Biarlah ketiga orang yang melakukan tindak kejahatan itu saja yang dihukum sesuai ketentuan yang berlaku, jangan disamaratakan ke seluruh warga keturunan yang tidak bersalah,” ujarnya dengan mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku penganiayaan itu sesuai ketentuan yang berlaku.

Suasana Kota Makassar pada Senin pagi berjalan normal dan aktivitas perdagangan di pusat-pusat pertokoan yang banyak dihuni warga keturunan berjalan seperti biasa.

Posted in Academic | | 1 Comments